Monday, April 22, 2013




BAB I
PENDAHULUAN




A. Latar Belakang
Tuberkulosis atau TB (TBC) adalah yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis (Sinta Sasika Novel,S.Si). Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang. Ini juga salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus.
Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus ini terjadi di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus di dunia.
Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal. Seratus tahun yang lalu, satu dari lima kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh tuberkulosis.
Tuberkulosis masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang tersering di Indonesia. Keterlambatan dalam menegakkan diagnosa dan ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan mempunyai dampak yang besar karena pasien Tuberkulosis akan menularkan penyakitnya pada lingkungan,sehingga jumlah penderita semakin bertambah.
Pengobatan Tuberkulosis berlangsung cukup lama yaitu setidaknya 6 bulan pengobatan dan selanjutnya dievaluasi oleh dokter apakah perlu dilanjutkan atau berhenti, karena pengobatan yang cukup lama seringkali membuat pasien putus berobat atau menjalankan pengobatan secara tidak teratur, kedua hal ini ini fatal akibatnya yaitu pengobatan tidak berhasil dan kuman menjadi kebal disebut MDR ( multi drugs resistance ), kasus ini memerlukan biaya berlipat dan lebih sulit dalam pengobatannya sehingga diharapkan pasien disiplin dalam berobat setiap waktu demi pengentasan tuberkulosis di Indonesia
Tanggal 24 Maret diperingati dunia “Hari TBC” karenapada 24 Maret 1882 di BerlinJermanRobert Koch mempresentasikan hasil studi mengenai penyebab tuberkulosis yang ditemukannya.

B. Rumusan Masalah

            a. Apa saja penyebab penyakit TBC?
            b. Apa saja gejala-gejala penyakit TBC?
            c. Bagaimana proses penularan penyakit TBC?
            d. Bagaimana cara mencegah penyakit TBC?
            e. Bagaimana cara mengobati penyakit TBC?
            f. Uji laboratorium apa saja yang perlu di lakukan?

C. Tujuan

a. Mengetahui Penyebab Penyakit TBC
b. Mengetahui Gejala-gejala Penyakit TBC
c. Mengetahui Penularan Penyakit TBC
d. Mengetahui Cara Mencegah Penyakit TBC
e. Mengetahuin Cara Mengobati Penyakit TBC
f. Uji atau Pemeriksaan Laboratorium




BAB II
PEMBAHASAN
  1. Tinjauan Pustaka
Tuberkulosis atau TB (TBC) adalah penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang. Ini juga salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus. (Sinta Sasika Novel,S.Si).
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, th 1995. hal 73).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang biasa menyerang paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain seperti pada kelenjar getah bening, ginjal, jantung, dan lain sebagainya (Danusantoso, 2000)
Mycobacterium Tuberkulosis ini ditularkan dari orang perorang melalui jalan pernapasan. Pada umumnya, penularan tuberkulosisb berasal dari orang dewasa yang positif tuberkulosis dimana batuk atau percikan ludahnya bertebaran di udara. Percikan ludah ini mengandung basil tuberculosis dan bila seorang anak menghirup udara yang mengandung basil tersebut akan berkembangbiak perlahan- lahan dan menyebabkan kelainan pada paru- paru (Somantri, 2008)





  1. PENYEBAB PENYAKIT TBC
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya tuberkulosis primer:
a.       Faktor Infeksi
Penularan tuberkulosis primer dapat melalui 4 cara, yaitu:
1.      Batuk orang dewasa
Saat orang dewasa batuk atau bersin, sejumlah tetesan cairan (ludah) tersembur ke udara. Bila orang tersebut menderita tuberkulosis paru, maka tetesan tersebut mengandung kuman. Jika disekitar orang tersebut terdapat orang dewasa atau anak-anak yang pada saat itu kekebalan tubuhnya menurun maka dengan mudah akan terinfeksi atau tertular.

2.      Makanan atau susu

Anak- anak bisa terinfeksi tuberkulosis dari susu atau makanan, dan infeksi bisa terjadi mulai pada mulut atau usus. Susu dapat mengandung tuberkulosis dari sapi (bovine TB), bila sapi di daerah tersebut menderitam tuberkulosis dan susu tidak direbus. sebelum diminum. Bila hal ini terjadi, infeksi primer terjadi pada usus, atau terkadang pada amandel.

3.      Melalui kulit

Kulit yang utuh ternyata tahan terhadap tuberkulosis yang jatuh diatas permukaannya. Namun, bila terdapat luka atau goresan baru, tuberkulosis dapat masuk dan menyebabkan infeksi yang serupa dengan yang ditemukan pada paru.

4.      Keturunan dari ibu

Apabila seorang ibu yang sedang hamil menderita tuberkulosis maka sudah pasti anaknya positif menderita tuberkulosis (medlinux.blogspot.com).





b.      Faktor Lingkungan

Lingkungan yang tidak sehat, gelap dan lembab akan mendukung perkembangbiakan basil Mycobacterium Tuberkulosis. Seperti diketahui basil tuberkulosis merupakan BTA (Basil Tahan Asam) yang dapat berkembangbiak apabila ada di ruangan yang gelap dan lembab, akan mati jika terkena sinar matahari secara langsung. Jadi kebersihan lingkungan perlu diperhatikan.

c.       Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi berkaitan dengan ketersediaan pangan yang kaya zat gizi. Ekonomi juga menjadi faktor pendukung yang mempengaruhi penyebab penularan tuberkulosis primer. Seorang ibu dengan perekonomian rendah maka untuk mencukupi makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak susah, sehingga mereka hanya memberi makanan apa saja tanpa mengetahui nilai gizinya. Padahal kita tahu bahwa dengan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi akan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak dan meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit (Harun, 2002).
d.      Pelayanan Kesehatan

Adanya penyakit tuberkulosis primer yang semakin tinggi prevalensi di Indonesia maka pelayanan kesehatan yang harus ditingkatkan oleh pemerintah, melihat penderita penyakit tersebut adalah anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan membutuhkan perawatan intensive. Apabila tingkat pelayanan kesehatan tidak optimal maka akan mempengaruhi penyembuhan tuberkulosis primer dan bila tingkat pelayanan kesehatan bekerja secara optimal maka laju peningkatan penyakit tuberkulosi primer dapat ditekan seminimal mungkin. Hal ini tidak lepas pula dari peran pemerintah dan masyarakat dalam menanggapi segala macam penyakit agar tidak terjadi angka kematian anak yang tinggi (Depkes RI, 2001).




  1. Gejala Penyakit TBC
Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian, yaitu gejala umum dan gejala khusus. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosa TBC adalah disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang tidak khas, terutama pada kasus-kasus baru.

a.  Gejala umum (Sistemik)
- Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
- Penurunan nafsu makan dan berat badan.
- Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
- Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

b. Gejala khusus (Khas)
- Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
- Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
- Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
- Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, Maka TBC dapat terdeteksi diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif.





  1. Penularan Penyakit TBC
Penularan tuberkulosis primer terjadi karena batuk atau percikan ludah yang mengandung basil Mycobacterium Tuberkulosis bertebaran di udara, kemudian terhirup oleh anak yang pada saat itu sistem imunitas dalam tubuhnya menurun sehingga mudah terinfeksi. Basil tersebut berkembangbiak perlahan-lahan dalam paru sehingga menyebabkan kelainan paru. Basil ini bila menetap di jaringan paru, ia akan tumbuh dan berkembangbiak dalam sitoplasma makrofag. Basil juga dapat terbawa masuk ke organ tubuh lain yang nantinya bisa menyebabkan tuberkulosis hati, ginjal, jantung, kulit dan lain-lain (UKK PP IDAI, 2005).
Bersamaan dengan itu, sebagian kuman akan dibawa melalui cairan getah bening ke kelenjar getah bening yang terdekat disamping bronkus. Dari kedua tempat tersebut, kuman akan menimbulkan reaksi tubuh, dan sel-sel kekebalan tubuh akan berkumpul. Dalam waktu 4 hinga 8 minggu akan muncul daerah kecil di tengah-tengah proses tersebut dimana terdapat jaringan tubuh yang mati ( perkijuan) yang dikelilingi sel-sel kekebalan tubuh yang makin membesar. Perubahan-perubahan yang terjadi pada paru dan kelenjar getah bening ini dikenal sebagai tuberkulosis primer (Harun,2002)

Basil Mycobacterium Tuberculosis ini dapat bertahan selama 1-2 jam pada suasana lembab dan gelap, sebaliknya akan mati jika terkena sinar matahari. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant , tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI, 2001).








  1. Pencegahan Penyakit TBC
Tips berikut berguna untuk mencegah Penularan penyakit TBC:
a. Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin
b. Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberi desinfektan (air sabun)
c. Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
d. Menghindari udara dingin
e. Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur
f. Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari
g. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain
h. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein

  1. Pengobatan Penyakit TBC 
Pengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik.
Selama proses pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya. Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang dikenal 'Triple Drug'.






                       


  1. Uji atau Pemeriksaan Laboratorium

Untuk mediagnosa penyakit tuberkulosis dapat di lakukan berbagai pemeriksaan yang akan di paparkan di bawah ini, namun yang lebih di tekankan dalam mendiagnosa adanya penyakit TBC adalah indikasi gejala klinis, sebab gejala klinis yang mendukung ditambah dengan hasil pemeriksaan lain barulah dapat di tentukan diagnosa penyakit TBC.

a.      Pemeriksaan  bakteriologi

untuk  menemukan kuman  tuberkulosis mempunyai  arti  yang sangat penting dalam menegakkan diagnosa. Bahan - Bahan atau spesimen untuk pemeriksaan bacteriologi. Untuk  mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diperhatikan waktu pengambilan, tempat penampungan, waktu  penyimpanan dan cara pengiriman bahan pemeriksaan.

b.      Pemeriksaan Darah
 Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukan indikator yang spesifik untuk tubercolosis. Laju Endap Darah (LED) jam pertama dan jam kedua dibutuhkan. Data ini dapat di pakai sebagai indikator tingkat kestabilan keadaan nilai keseimbanganpenderita,  sehingga dapat digunakan untuk salah satu respon terhadap pengobatan penderita serta  kemungkinan sebagai predeteksi tingkat penyembuhan penderita.Demikian pula kadar  limfosit dapat menggambarkan daya tahan tubuh penderita.

c.       Uji Tubercullin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat  untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam "Screening TBC". Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.Penderita  anak  umur  kurang  dari  1  tahun  yang  menderita  TBC  aktif  uji  tuberkulin positif  100%,  umur  1–2  tahun  92%,  2–4  tahun  78%,  4–6  tahun  75%,  dan  umur  6–12 tahun 51%.  Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.Ada beberapa cara  melakukan  uji tuberkulin, namun  sampai sekarang cara mantoux lebih  sering  digunakan. Lokasi  penyuntikan  uji mantoux umumnya  pada  ½  bagian  atas lengan  bawah  kiri  bagian  depan,  disuntikkan intrakutan(ke  dalam  kulit).Penilaian  uji tuberkulin  dilakukan  48–72  jam  setelah  penyuntikan  dan  diukur  diameter  dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi.Uji  tuberkulin  hanya  berguna  untuk menentukan adanya infeksi TBsedangkan penentuan  sakit  TB  perlu ditinjau dari  klinisnya  dan ditunjang  foto  torak.Pasien  dengan hasil  uji  tuberkulin  positif  belum  tentu  menderita  TB. Adapun  jika  hasil  uji  tuberkulin negatif,  maka  ada  tiga  kemungkinan,  yaitu  tidak  ada  infeksi  TB,  pasien  sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi alergi.
Penilaian hasil uji tuberculin test :
1.  Pembengkakan (Indurasi)   : 0–4 mm,uji mantoux negatif.
        Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa
   2.  Pembengkakan (Indurasi)  : 3–9 mm,uji mantoux meragukan.
        Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi atau silang dengan Mikobakterium atipik setelah  vaksinasi BCG.
   3.  Pembengkakan (Indurasi)   : = 10 mm,uji mantoux positif.
        Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa

d.      Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan  standar  ialah  foto  toraks.  Pemeriksaan  lain  atas  indikasi:  fotolateral,  top lordotik,  oblik,  CT  Scan.  Pada  pemeriksaan  foto  toraks,  tuberkulosis  dapat  memberi gambaran bermacam-macam bentuk.









BAB III

A.      KESIMPULAN
Berdasarkan isi pembahasan, dapat disimpulkan bahwa, penyakit TBC dapat disebabkan oleh gaya hidup yang kurang sehat. misalkan, jika seseorang terlalu banyak bekerja keras, dan lupa untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam dirinya, maka tentu saja daya tahan tubuh akan berkurang, sehingga penyakit ini dapat diderita oleh orang tersebut. pada umumnya penyakit ini bermula dari sebuah penyakit batuk biasa. namun bila penyakit batuk ini sudah tidak diobati selama tiga minggu, maka akan berakibat lebih buruk, dan akhirnya timbullah penyakit TBC.

B.       DAFTAR PUSTAKA


Sasika Sinta, 2010. Ensiklopedi Penyakit Menular dan Infeksi. Bandung. Familia Pystaka Keluarga.

No comments:

Post a Comment